0 Donasi

Empat murid dari SD yang berbeda dengan satu asal yang sama, yaitu Bima, Nusa Tenggara Barat. Mereka berasal dari SD Inpres Lewintana dan SDN Wora. SD Inpres Lewintana menuturkan ia ingin sekali menjadi guru agama karena terinspirasi dari guru di sekolahnya.
Untuk mewujudkan mimpinya, mereka bersekolah dengan fasilitas seadanya. Di keadaan gedung sekolah yang reot. Lantai keramik yang retak. Genteng kelas yang bolong-bolong. Kalau matahari muncul, kelas akan terasa panas. Jika hujan datang, kelas akan basah. Situasi ini membuat kelas menjadi tidak kondusif.
Keadaan sekolah-sekolah di Bima memang cukup memprihatinkan. Pada 2023, YAPPIKA-ActionAid mencatat sekitar 6 dari 10 ruang kelas rusak dan jumlah ini terus meningkat. Walau hampir 8 dari 10 sekolah punya perpustakaan, hanya sekitar 4 dari 10 yang kondisinya benar-benar baik. Salah satu murid di SD Inpres Lewintana sendiri mengeluhkan jamur-jamur dari plafon kelas cukup mengganggu saat ia sedang belajar. 
Tidak maksimalnya pembelajaran disana juga didukung data dari YAPPIKA-ActionAid terkait Manajemen Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). KBM di beberapa SD Bima masih lemah dan ditandai banyaknya jam kosong serta kekurangan guru aktif. Contoh ekstrem tampak di SDN Inpres Bala, ketika tidak ada proses KBM di seluruh kelas 1–6. Kondisi ini berdampak langsung pada kehadiran dan minat belajar; dalam mengajar pada satu kelas berisi 25 siswa, hanya 6–7 siswa yang hadir setiap hari.

Murid-murid disini ingin fasilitas pendidikan yang memadai agar mimpi-mimpinya bisa terwujud di masa depan dan menjadi harapan di kemudian hari. Bantu anak-anak di Bima untuk bisa bersekolah dengan layak dan kondusif. YAPPIKA-ActionAid butuh bantuan para pembaca membantu anak-anak di Bima. Donasi ini akan disalurkan untuk memperbaiki fasilitas sekolah, literasi pendidikan serta sarana-prasarana membantu KBM.
DONASI MULAI DARI SEKARANG!
SATU DONASIMU BISA MEMBANTU SATU MURID UNTUK MENDAPATKAN PENDIDIKAN TERBAIK.