Pilih atau masukkan nominal donasi yang Anda inginkan
Pilih atau masukkan nominal donasi yang Anda inginkan
14 Donasi
Di Antara Huruf yang Hilang: Cerita dari Bima
"Tak pernah terbayang oleh saya, ada SD Negeri yang hampir semua siswa/siswinya tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung."
Hari itu, saat matahari baru sepenggalah saya berdiri di depan sebuah sekolah dasar di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Udara masih hangat, jalanan tanah masih basah, barangkalai sisa hujan semalam. Dari kejauhan, saya melihat anak-anak berjalan beriringan, sebagian tanpa alas kaki, sebagian membawa tas yang sudah lusuh.
Buku. Pensil. Harapan.
Saya masuk ke ruang kelas yang dindingnya mulai retak, atapnya bocor, sebagian bahkan nyaris roboh. Anak-anak duduk rapi, mata mereka menatap ke depan. Tapi ketika kami mulai berbicara, satu demi satu kenyataan terungkap: sebagian besar dari mereka belum bisa membaca. Belum bisa menulis. Belum bisa berhitung. Mereka belum bisa memahami dunia yang terbuka lewat kata-kata.

Ini bukan cerita satu sekolah. Ini adalah potret dari delapan SD Negeri yang kami kunjungi di Bima. Hasil assessment tim YAPPIKA-ActionAid (lembaga tempat saya bekerja) menunjukkan bahwa hanya 20% siswa kelas 3–5 mampu membaca dengan lancar. Artinya, 4 dari 5 anak masih tertinggal. Di SD Inpres Bala, angka itu bahkan lebih menyayat hati: 94,55% siswa belum bisa membaca.
Saya masih ingat seorang anak bernama Nisa. Ia duduk di kelas 4, tapi belum mengenal huruf dengan baik. Ketika saya bertanya apa cita-citanya, ia menjawab pelan, “Saya ingin jadi guru.” Saya terdiam. Bagaimana mungkin seorang anak bisa bermimpi menjadi guru, jika ia belum bisa membaca namanya sendiri?
Data nasional pun menguatkan kekhawatiran kami. Skor PISA 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara, dengan skor membaca hanya 347 poin—turun drastis dari tahun 2018. Indeks Aktivasi Literasi Membaca (Alibaca) 2023 menunjukkan bahwa 71% provinsi berada dalam kategori aktivitas literasi rendah. Ketimpangan ini nyata. Di Jakarta, lebih dari 70% siswa SD telah mencapai kompetensi minimum literasi. Tapi di NTB, NTT, dan Papua, sebagian besar kabupaten masih berstatus “kurang”.
Literasi bukan sekadar kemampuan teknis. Ini soal keadilan. Ketika anak-anak di satu wilayah bisa membaca buku cerita dan memahami pelajaran, sementara anak-anak di wilayah lain bahkan belum mengenal huruf, kita sedang menghadapi ketimpangan yang dalam. Ketimpangan ini tidak akan hilang dengan sendirinya.

Di Bima, tantangannya kompleks. Buku bacaan berkualitas masih langka. Perpustakaan belum berfungsi. Guru belum terlatih dalam pendekatan fonik dan multiliterasi. Infrastruktur sekolah rusak berat. Listrik tak stabil. Sanitasi buruk. Kurikulum belum tersosialisasi dengan baik. Dana pendidikan belum tepat sasaran. Dan motivasi belajar anak-anak pun mulai memudar.
Namun, saya percaya: harapan itu ada.
Pada Agustus 2025 lalu, Reza Rahadian sebagai Duta Persahabatan, melakukan kunjungan kerja ke Bima. Tujuannya jelas: memperkuat strategi advokasi perbaikan literasi siswa/siswi dan infrastruktur sekolah yang selama ini rusak parah, mendorong komitmen pemerintah daerah, menyusun roadmap perbaikan, dan mengangkat suara anak-anak Bima ke tingkat nasional. Perlahan, advokasi kami diliput oleh banyak media lokal maupun nasional, diperbicangkan oleh masyarakat di media sosial. Pemerintah setempat mulai terbuka untuk berdialog, mendengarkan keluhan-keluhan dan masukan dari para guru sekolah dan mitra kami di Kab. Bima.

Setiap anak berhak untuk bisa membaca, menulis, dan bermimpi. Tapi mereka tak bisa melakukannya sendiri. Mereka butuh buku. Butuh guru yang terlatih dan kompeten. Butuh ruang kelas yang layak. Dan yang paling penting, mereka butuh dukungan dari kita semua.
Mari bantu anak-anak di Bima agar tidak menjadi generasi yang hilang. Kontribusi Anda bukan sekadar angka. Ia adalah harapan untuk perubahan.
Berdonasi sebesar Rp 50,000
13 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 150,000
08 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 100,000
08 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 100,000
08 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 50,000
08 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 50,000
08 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 250,000
08 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 250,000
08 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 100,000
07 December 2025
Berdonasi sebesar Rp 15,000
07 December 2025